Hikayat
Kebangkitan Sejati
![]() |
| Sampul film Tenggelamnya Kapal Van der Wijck |
![]() |
| Sampul novel karya Buya Hamka |
Tenggelamnya Kapal Van
der Wijck adalah film drama romantis Indonesia yang diproduksi oleh Soraya
Intercine Films dan dirilis tanggal 19 Desember 2013. Film ini diadaptasi dari
novel mahakarya sastrawan sekaligus budayawan H. Abdul Malik Karim
Abdullah/Hamka. Tenggelamnya Kapal Van der Wijck disutradarai sekaligus
diproduseri oleh Sunil Suraya dan co produsernya adalah Ram Soraya. Penulis
skenario film ini adalah Donny Dhirgantoro, Imam Tantowi, Riheam Junianti dan
Sunil Soraya dengan memakan waktu 2 tahun lamanya. Film ini adalah film
termahal biaya produksinya yang diproduksi oleh Soraya Intercine Films dan
termasuk film dengan masa tayang terpanjang dalam sejarah film Indonesia.
Film ini menghabiskan
waktu 5 tahun untuk proses produksinya dengan proses penyuntingan 6 bulan dan
menghasilkan film berdurasi 2 jam 49 menit. Penulis skenario film ini melakukan
riset yang mendalam dalam menulis skenarionya seperti mulai dari memperhatikan
kapalnya hingga adat Minang, latar serta properti seperti mobil, baju dan
barang-barang era 1930-an juga.
Aktris dan aktor yang
berperan dalam film ini adalah Pevita Pearce (Rangkayo Hayati), Herjunot Ali
(Zainuddin), Reza Rahadian (Aziz), Randy Danistha (Muluk), Arzetti Bilbina (Ibu
Muluk), Kevin Andrean (Sophian) Jajang C. Noer (Mande Jamilah), Niniek L. Karim
(Mak Base), Musra Dahrizal Katik Rajo Mangkuro (Datuk Hayati), Gesya Shandy
(Khadijah), Femmy Prety, Dewi Agustin, dll.
![]() |
| Cuplikan adegan saat Zainuddin dan Hayati bertemu |
Awal mulanya film ini
berlatarkan tahun 1930an di tanah Makasar. Zainuddin pergi berlayar ke kampung
halaman Ayahnya di Batipuh, Padang Panjang. Sesampainya ia di sana, ia bertemu
seorang gadis cantik yang bernama Hayati. Mereka berdua saling jatuh cinta
namun adat-istiadat meruntuhkan cinta mereka. Zainuddin orang yang tidak mapan
dan tidak bersuku sedangkan Hayati adalah gadis Minang yang santun dan
keturunan bangsawan. Adat Minang bernasabkan garis keturunan ibu, sedangkan
Zainuddin memiliki seorang ibu berdarah Bugis bukan Minang. Pada adegan atau
cerita ini dapat kita lihat jelas bahwa pada zaman dahulu Indonesia masih
berpegang teguh pada adat-istiadat yang berlaku disetiap daerah dan tidak bisa
diganggugugat oleh apapun.
Zainuddin sudah
terlanjur mencintai Hayati sehingga dia memutuskan untuk melamar Hayati namun
ditolak oleh keluarga Hayati. Hayati dipaksa menikah dengan Aziz yaitu kakak
Khadijah (Teman baik Hayati) karena dia lebih terpandang daripada Zainuddin.
Zainuddin merasa tersakiti dan memilih untuk merantau ke Surabaya untuk
melupakan kepedihannya dan membuka lembaran hidup baru. Zainuddin selalu
menuangkan pengalamannya dalam lembaran-lembaran kertas yang kemudian cerita
pengalamannya membawa ia ke gerbang kesuksesan. Dia menjadi orang yang terkenal
di seluruh Nusantara karena karya tulis indah yang ia buat. Pada cerita ini
dapat kita lihat bahwa keterpurukan karena cinta dapat membuahkan sebuah
kesuksesan apabila kita bangkit dan menganggap itu positif.
Zainuddin pergi
merantau dengan tujuan melupakan Hayati, namun tanpa disangka mereka bertemu di
sebuah pertunjukan tetapi Hayati datang bersama suaminya, Aziz. Aziz, suami
Hayati adalah lelaki yang mapan namun tak disangka Aziz mengalami kebangkrutan
karena terlilit hutang dimana-mana dan terpaksa bertempat tinggal bersama
dengan Zainuddin. Karena merasa malu, Aziz pun pergi merantau untuk mencari
pekerjaan tanpa membawa Hayati.
Aziz merasa bersalah
karena Zainuddin sehingga ia nekat untuk mengakhiri hidupnya dan melepas Hayati
sebagai istrinya. Zainuddin pun meminta Hayati untuk pulang kampung ke
halamannya, yaitu “Tanah Minangkabau yang kaya dengan adat, yang tak lapuk oleh
hujan dan tak lekang oleh panas” karena ia tertelan amarahnya. Hayati pulang
dengan Kapal Van der Wijck dan di tengah perjalanan, kapal tersebut tenggelam.
Zainuddin mengetahui berita tersebut dan menyesal karena telah melepas Hayati
untuk yang kedua kalinya. Namun, keterpurukan tersebut membuat ia bangkit
kembali dan tetap melanjutkan hidupnya denga terus berkarya.
Film ini menonjolkan
kekayaan budaya Indonesia yaitu adat-istiadat, bahasa, pakaian, dll. Selain
itu, latar dan cara pemain memainkan perannya menggambarkan era 1930-an. Pemain
memerankan perannya dengan penuh penghayatan yang membuat penonton pun dapat
terbawa suasana seolah-olah hadir dalam film tersebut. Namun sayang, dibalik
kesuksesan film ini terdapat sedikit kekurangan yaitu bahasa yang agak sulit
dimengerti, durasi film yang terlalu lama, tidak terlalu menonjolkan apa yang
menjadi judul filmnya (Tenggelamnya Kapal Van der Wijck), dan tidak terlihat
penyebab kapal Van der Wijck tenggelam.
Dari paparan di atas
dapat disimpulkan bahwa Film Tenggelamnya Kapal Van der Wijck yang merupakan
adaptasi dari novel karya Buya Hamka ini memberikan pesan moral yang sangat
luar biasa. Film ini dapat menjelaskan kembali bagaimana kentalnya kebudayaan
Indonesia dimasa lampau, dapat memotivasi anak muda untuk selalu hadapi masalah
dan bangkit dari keterpurukan, serta dapat mengenalkan pada masyarakat tentang
kemahsyuran bangsa Indonesia zaman dahulu.
Trailer Film Tenggelamnya Kapal Van der Wijck
Dimohon komentarnya ya teman-teman, terimakasih sudah membaca dan mengomentarinya:)
Source by:
http://id.wikipedia.org/wiki/Tenggelamnya_Kapal_Van_der_Wijck_%28film%29


